BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Prevalensi Status Gizi Balita (BB/U)
Menurut Provinsi, Riskesdas 2010 (dalam %)
Provinsi
Status Gizi menurut BB/U
Gizi buruk Gizi kurang
Gizi baik Gizi lebih Jumlah
1
Aceh 7,1 16,6 72,1 4,2 100,0
2
Sumatera
Utara 7,8 13,5 71,1 7,5 100,0
3
Sumatera
Barat 2,8 14,4 81,3 1,6
100,0
4
Riau
4,8 11,4 75,2 8,6 100,0
5
Jambi 5,4 14,3 76,3 4,1
100,0
6
Sumatera
Selatan 5,5 14,4 74,5 5,6 100,0
7
Bengkulu 4,3 11,0 73,7 10,9 100,0
8
Lampung 3,5 10,0 79,8 6,8
100,0
9
Bangka
Belitung 3,2 11,7 80,6 4,5 100,0
10
Kepulauan
Riau 4,3 9,8 81,3 4,6 100,0
11
DKI
Jakarta 2,6
8,7 77,7 11,1
100,0
12
Jawa
Barat 3,1
9,9 81,6 5,4
100,0
13
Jawa
Tengah 3,3 12,4 78,1 6,2 100,0
14
DI
Yogyakarta 1,4 9,9 81,5 7,3 100,0
15
Jawa
Timur 4,8 12,3 75,3 7,6 100,0
16
Banten
4,8 13,7 77,5 4,0 100,0
17
Bali
1,7 9,2 81,0 8,0 100,0
18
Nusa
Tenggara Barat 10,6 19,9 66,9 2,6 100,0
19
Nusa
Tenggara Timur 9,0 20,4 67,5 3,1 100,0
20
Kalimantan
Barat 9,5 19,7 67,0 3,9 100,0
21
Kalimantan
Tengah 5,3 22,3 69,4 2,9 100,0
22
Kalimantan
Selatan 6,0 16,8 73,1 4,0 100,0
23
Kalimantan
Timur 4,4 12,7 75,9 7,0 100,0
24
Sulawesi
Utara 3,8 6,8 84,3 5,1 100,0
25
Sulawesi
Tengah 7,9 18,6 69,1 4,4 100,0
26
Sulawesi
Selatan 6,4 18,6 72,2 2,8 100,0
27
Sulawesi
Tenggara 6,5 16,3 66,9 10,2 100,0
28
Gorontalo
11,2 15,3 69,4 4,1 100,0
29
Sulawesi
Barat 7,6 12,9 74,9 4,7 100,0
30
Maluku
8,4 17,8 70,5 3,4 100,0
31
Maluku
Utara 5,7 17,9 73,2 3,2 100,0
32
Papua
Barat 9,1
17,4 67,3
6,2 100,0
33
Papua
6,3 10,0 78,4 5,3 100,0
Indonesia
4,9 13,0 76,2 5,8 100,0
Dari 33 provinsi di Indonesia 18 provinsi masih
memiliki prevalensi berat kurang di atas angka prevalensi nasional yaitu
berkisar antara 18,5 persen di provinsi Banten sampai 30,5 persen di provinsi
Nusa Tenggara Barat. Urutan ke 18 provinsi tersebut dari yang tertinggi sampai
terendah adalah (1) Nusa Tenggara Barat, (2) Nusa Tenggara Timur, (3)
Kalimantan Barat,(4) Kalimantan Tengah, (5) Sulawesi Tengah, (6) Papua Barat,
(7) Gorontalo, (8) Maluku, (9)Sulawesi Selatan, (10) Aceh, (11) Maluku Utara,
(12) Kalimantan Selatan, (13) Sulawesi Tenggara, (14) Sumatera Utara, (15)
Sulawesi Barat, (16) Sumatera Selatan, (17) Jambi dan (18) Banten. Dari segi
sasaran MDG 2015 sembilan provinsi memiliki prevalensi berat kurang di bawah
sasaran MDG atau sudah mencapai sasaran. Ke 9 provinsi tersebut adalah: (1)
Sulawesi Utara, (2) Bali, (3) DI Yogyakarta, (4) DKI Jakarta, (5) Jawa Barat,
(6) Lampung, (7) Kepulauan Riau, (8) Kepulauan Bangka Belitung, dan (9)
Bengkulu(Riskesdas,2010).
Prevalensi
Status Gizi Balita (TB/U) Menurut Provinsi, Riskesdas 2010
Provinsi Status
Gizi menurut TB/U
Sangat pendek Pendek Normal Jumlah
1
Aceh
24,2 14,8 61,1 100,0
2
Sumatera
Utara 23,4
18,9 57,7 100,0
3
Sumatera
Barat 14,3 18,4 67,2 100,0
4
Riau
19,6
12,5 67,8 100,0
5
Jambi
15,4
14,8 69,8 100,0
6
Sumatera
Selatan 23,1 17,3 59,6 100,0
7
Bengkulu
18,3
13,3 68,4 100,0
8
Lampung
20,6
15,6 63,7 100,0
9
Bangka
Belitung 12,5
16,6 71,0 100,0
10
Kepulauan
Riau 11,4 15,5 73,1 100,0
11
DKI
Jakarta 14,3
12,3 73,4 100,0
12
Jawa
Barat 16,6
17,1 66,4 100,0
13
Jawa
Tengah 16,9
17,0 66,1 100,0
14
DI
Yogyakarta 10,2
12,3 77,5 100,0
15
Jawa
Timur 20,9
14,9 64,1 100,0
16
Banten
16,5
17,0 66,5 100,0
17
Bali
14,0
15,3 70,7 100,0
18
Nusa
Tenggara Barat 27,8
20,5 51,8 100,0
19
Nusa
Tenggara Timur 30,9 27,5 41,6 100,0
20
Kalimantan
Barat 20,7 19,0 60,3 100,0
21
Kalimantan
Tengah 18,0 21,6 60,4 100,0
22
Kalimantan
Selatan 15,9 19,4 64,7 100,0
23
Kalimantan
Timur 14,4 14,7 70,9 100,0
24
Sulawesi
Utara 12,7 15,1
72,2 100,0
25
Sulawesi
Tengah 16,0 20,1 63,8 100,0
26
Sulawesi
Selatan 15,8 23,1 61,1 100,0
27
Sulawesi
Tenggara 20,8 17,0 62,2 100,0
28
Gorontalo
21,6
18,7 59,7 100,0
29
Sulawesi
Barat 21,6
20,0 58,4 100,0
30
Maluku
16,5
21,0 62,5 100,0
31
Maluku
Utara 14,4
15,0 70,6 100,0
32
Papua
Barat 28,6
20,6 50,8 100,0
33
Papua
13,3
15,0 71,7 100,0
Indonesia
18,5
17,1 64,4 100,0
Prevalensi kependekan secara nasional tahun 2010 sebesar
35,6 persen yang berarti terjadi penurunan dari keadaan tahun 2007 dimana
prevalensi kependekan sebesar 36,8%. Prevalensi kependekan sebesar 35,6 persen terdiri
dari 18,5 persen sangat pendek dan 17,1% pendek. Bila dibandingkan dengan prevalensi
sangat pendek dan pendek tahun 2007 terlihat ada sedikit penurunan pada prevalensi
sangat pendek dari 18,8 persen tahun 2007 menjadi 18,5 persen tahun 2010 dan prevalensi
pendek menurun dari 18,0 persen tahun 2007 menjadi 17,1 persen tahun 2010.
Sebanyak 15 provinsi memiliki prevalensi kependekan di atas angka prevalensi
nasional. Urutan dari ke 15 provinsi tersebut dari yang memiliki prevalensi
tertinggi sampai terendah adalah: (1) Nusa Tenggara Timur, (2) Papua Barat, (3)
Nusa Tenggara Barat, (4) Sumatera Utara, (5) Sumatera Barat, (6) Sumatera
Selatan, (7) Gorontalo, (8) Kalimantan Barat, (9)Kalimantan Tengah, (10) Aceh,
(11) Sulawesi Selatan, (12) Sulawesi Tenggara, (13) Maluku,(14) Lampung, dan
(15) Sulawesi Tengah. Bila dibandingkan dengan batas “non public health
problem” menurut WHO untuk masalah kependekan sebesar 20 persen, maka semua
provinsi masih dalam kondisi bermasalah kesehatan masyarakat (Riskesdas,2010).
Bagi bayi non BBLR, pada umumnya mereka mempunyai
status gizi saat lahir yang kurang lebih sama dengan status gizi bayi di
Amerika. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya umur, disertai dengan adanya
asupan zat gizi yang lebih rendah dibandingkan kebutuhari serta tingginya beban
penyakit infeksi pada awal-awal kehidupan maka sebagian besar bayi Indonesia
terus mengalami penurunan status gizi dengan puncak penurunan pada umur kurang
lebih 18-24 bulan. Padakelompok umur inilah prevalensi balita kurus (wasting)
dan balita pendek(stunting) mencapai tertinggi (Hadi, 2001).
Status
gizi merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat yang
menggambarkan keseimbangan antara keperluan dan pasokan gizi yang
diperoleh.Gizi kurang menyebabkan terpengaruhnya perkembangan mental, jasmani,
dan sebagainya. Pada masa bayi, kekurangan gizi berkaitan dengan gangguan
intelektual, sehingga hal ini merupakan salah satu masalah yang serius.Status
gizi merupakan ekspresi dari keadaan
keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture
dalam bentuk variabel tertentu. Sebagai contoh : Gizi kurang merupakan
keadaan tidak seimbangnya konsumsi makanan dalam tubuh seseorang. Status Gizi Anak adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh
derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan
dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri ( Suharjo,2006)
Masalah gizi,meski pun sering berkaitan
dengan masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan
produksi dan pengadaan pangan. Pada kasus tertentu,seperti dalam keadaan
krisis(bencana kekeringan, perang, kekacauan, sosial, krisis ekonomi), masalah
gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, yaitu
kemampuan rumah tangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Menyadari hal
itu,peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang memjamin
setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan yang cukup jumlah dan
mutunya.Dalam kontek itu masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah kesehatan
tetapi juga masalah kemiskinan,pemerataan,dan masalah kesempatan
kerja.(Supariasa,2002)
Dalam suatu kelompok masyarakat tertentu penderita kurang
gizi merupakan masalah yang amat pelik dan tidak mudah penanganannya.
Kekurangan gizi merupakan penyakit tidak menular yang terjadi pada sekelompok
masyarakat di suatu tempat. Umumnya penyakit kekurangan gizi merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang menyangkut multidisiplin dan selalu harus dikontrol
terutama masyaratkat yang tinggal di negara-negara baru berkembang. Selanjutnya
karena menyangkut masyarakat banyak, kekurangan gizi yang terjadi pada
sekelompok masyarakat tertentu menjadi masalah utama di dunia.(Indrawani,2007)
1.2 Tujuan
1.2.1
Tujuan Umum
Agar mahasiswa memahami cara penilaian
status gizi.
1.2.2
Tujuan Khusus
1. Agar
mahasiswa memahami penilaian status gizi
2. Agar
mahasiswa memahami berbagai metode penilaian status gizi
3. Agar
mahasiswa mampu melakukan praktek pengukuran BB/U,TB/U dan BB/TB
4. Agar
mahasiswa mampu menganalisa data dengan z skor
Adapun
tujuan penyusunan makalah ini untuk :
1. Mengetahui
Bagaimana melakukan penilaian status gizi secara Antropometri
2. Mengetahui
status gizi balita di PAUD IT Al-Azhar
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Definisi
status gizi
Status gizi masyarakat
tergantung pada tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas
serta kuantitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan dengan adanya semua zat gizi yang diperlukan
tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang
lain. Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi terhadap keubutuhan
tubuh. Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut
kualitas maupun kuantitasnya, maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan gizi
yang sebaik-baiknya . Konsumsi yang menghasilkan kesehatan gizi yang
sebaik-baiknya disebut konsumsi adekuat.(Santoso,2004)
Status gizi adalah
suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan
yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi di bagi
menjadi 3 katagori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih.
(Almatsier,2005)
2.2 Pengertian Malnutrisi
Keadaan patologis akibat kekurangan atau
kelebihan secara relatif maupun absolut
satu atau lebih zat gizi.
Ada
empat bentuk malnutrisi:
1. Under
nutrition
2. Specific
defisiency
3. Over
nutrition
4. Imbalance
(Supariasa,2002)
Secara nyata
malnutrisi di bidang kesehatan masyarakat merupakan penyakit gizi yang sering
kontinu berpengaruh terhadap pertumbuhan. Berdasarkan penyelidikan dan
pengalaman, ada dua hal penting yang berhubungan dengan malnutrisi
dan hal yang perlu diperhatikan dalam usaha mempebaiki status gizi, yaitu:
1. Faktor
makanan saja
2. Standar
hidup secara nasional tinggi.(Indrawani, 2007)
2.3 Faktor
yang mempengaruhi status gizi
1. Sumber
penyakit (Agent)
Faktor
sumber penyakit dapat dibagi 8 unsur, yaitu unsur gizi, kimia dari luar,kimia
dari dalam,faktor faali/fisiologis,genetik,psikis,tenaga dan kekuatan fisik,
dan biologi/parasit.
2. Penjamu
(HOST)
Faktor-faktor
penjamu yang mempengaruhi kondisi manusia hingga menimbulkan penyakit,terdiri
atas faktor genetis,umur,jenis kelamin,kelompok
etnik,fisiologis,immunologi,kebiasaan seseorang (Kebersihan,makanan,kontak
perorangan,pekerjaan,rekreasi,pemanfaatan pelayanan kesehatan)
3. Lingkungan
(Environment) .
Faktor
lingkungan dapat dibagi dalam 3 unsur utama,yaitu
a. Lingkungan
fisik,seperti cuaca atau iklim,tanah,dan air.
b. Lingkungan
Biologis
c. Lingkungan
sosial ekonomi (Supariasa,2002)
2.4 Jenis
metode Penilaian Status Gizi
Pada prinsipnya,
penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian pada periode kehidupan lain.
Pemeriksaan yang perlu lebih diperhatikan tentu saja bergantung pada bentuk
kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori
protein, misalkan, lazim menjangkiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan
terhadap tanda dan gejala ke arah sana termasuk pula kelainan lain yang
menyertainya,perlu dipertajam.(Arisman,2007)
2.4.1
Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Ada beberapa cara
penilaian status gizi secara langsung,
yaitu tes laboratorium, biofisik, pemeriksaan tanda-tanda klinis, dan
pengukuran antropometri.
1.Biokimia
Tes
laboratorium meliputi pemeriksaan biokimia, hematologi, dan parasitologi. Pada
pemeriksaan biokimia dibutuhkan spesimen yang akan diuji, seperti darah, urin,
tinja, dan jaringan tubuh seperti hati, otot, tulang,rambut, kuku, dan lemak
bawah kulit.
Beberapa
kelebihan dari penggunaan tes biokimia yaitu :
a. Ojektif
b. Gradable,
dapat diranking apakah ringan, sedang, atau berat.
Beberapa
keterbatasan dari penggunaan tes laboratorium yaitu:
a. Mahal,
pada umumnya pemeriksaan laboratorium memerlukan biaya yang tidak sedikit
karena berhubungan dengan peralatan dan reagennya;
b. Keberadaan
dari laboratorium, terkadang lokasi survei jauh dari laboratorium;
c. Kesukaran
yang berhubungan dengan spesimen pada saat pengumpulan, pengawetan, dan
transportasi;
a. Dibutuhakan
data referensi untuk menentukan hasil laboratorium.
2.Biofisik
1.
Pengertian
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status
gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnyan jaringan) dan melihat
perubahan struktur dari jaringan.
2.Penggunaan
Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta
senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes
adaptasi gelap.(Supariasa,2002)
Ukuran
Antropometri
Untuk menilai
pertumbuhan fisik anak, sering digunakan ukuran-ukuran antropometri yang
dibedakan menjadi 2 kelompok yang meliputi:
a. Tergantung
umur (age dependence)
-
Berat badan (BB) terhadap umur
-
Tinggi/panjang badan (TB) terhadap umur
-
Lingkaran kepala (LK) terhadap umur
-
Lingkaran lengan atas (LKA) terhadap
umur
Kesulitan menggunakan cara ini adalah menetapkan
umur anak yang tepat, karena tidak semua anak mempunyai catatan mengenai
tanggal lahirnya.
b. Tidak
tergantung umur
-
BB terhadap TB
-
LLA terhadap TB (QUAC Stick = Quacker
Arm Circumference measuring stick)
-
Lain-lain: LLA dibandingkan dengan
stanadar/baku, lipatan kulit pada trisep subskapular, abdominal dibandingkan
dengan baku.
Kemudian
hasil pengukuran antropometri tersebut dibandingkan dengan suatu baku tertentu,
misalnya baku Harvard, NCHS, atau baku nasional.
Disamping itu masih ada ukuran antropometri lainnya,
yang diapkai untuk keperluan khusus, misalnya pada kasus-kasus dengan kelainan
bawaan atau untuk menentukan jenis perawakan, anatara lain adalah:
1. Lingkaran
dada, lingkaran perut dan lingkaran leher
2. Panjang
jarak antara 2 titik tubuh, seperti biakromial untuk lebar bahu, bitrokanterik
untuk lebar pinggul, bitemporal untuk mlebar kepala, dll. (Soetjiningsih,2004)
Untuk mengetahui status gizi anak diperlukan
terlebih dahulu pengetahuan mengategorikan pada keadaan mana anak tersebut itu.
Pada dasarnya perhitungan berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur,
dan berat badan menurut tinggi badan seorang anak didasarkan pada nilai Z-nya
(relatif devisiasi terhadap nilai rata-ratanya), dari nilai Z ini dapat ditentukan
Standar Devisiasinya (SD). Cut off point
untuk tipa indikator status gizi adalah ± 2 SD dan status
gizi < -3 SD dikategorikansebagai kurang gizi berat.(Adisasmito,2007)
2.4.1.1 Antropometri
Antropometri berarti mengukur, secara literal
berarti "pengukuran manusia"), dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu manusia untuk
mengetahui variasi fisik manusia.
Kini, antropometri berperan penting dalam bidang
perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data
statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk
menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari,
nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam
distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala
dari koleksi data antropometrik.
PSG dengan metode antropometri adalah menjadikan
ukuran tubuh manusia sebagai alat menentukan status gizi manusia. Konsep dasar
yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri secara antropometri adalah
Konsep Dasar Pertumbuhan
Pertumbuhan secara gamblang dapat diartikan terjadinya
perubahan sel tubuh dalam 2 bantuk yaitu:
1. Pertambahan sel
2. Pembelahan selyang secara akumulasi
perjadinya perubahan ukuran tubuh.
Jadi pada dasarnya menilai status gizi dengan metode
antropometri adalah menilai pertumbuhan. Hanya saja pertumbuhan dalam
pengertian pertambahan sel memiliki batas waktu tertentu. Para pakar
antropometri sepakat bawah pada umumnya pertumbuhan manusia dalam arti
pertambahan sel akan berhenti pada usia 18-20 tahun, walaupun masih ditemukan
sebelum 18 pertumbuhan sudah berhenti, dan sebaliknya setelah 20 tahun masih
ada kemungkinan pertumbuhan masih berjalan.
Makhluk
hidup, termasuk manusia makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kebutuhan tubuh
akan makanan dapat dideskripakn dari tri fungsi makanan itu sendiri
yaitu :
- Sumber Tenaga
- Pertumbuhan
- Pemeliharaan
Sebagai
sumber tenaga adalah karbohidrat, lemak dan protein, dalam urutan yang berbeda
sebagai sumber energi. Pembakaran 1 gram karbohidrat menghasikan 4,1 kalori,
protein 41 kalori dan lemak 9 kalori per gramnya. Namun lemak bukanlah sumber
energi utama oleh karena untuk metabolisme lemak dibutuhkan kalori yang lebih
tinggi untuk Specifik Dinamyc Action (SDA)nya.
Sebagai
sumber zat pembangun adalah Protein, Lemak dan Karbohidrat. Sedangkan sebagai sumber zat pengatur adalah vitamin dan mineral.
Antropometri
dapat dibagi menjadi 2 yaitu,
- Antropometri Statis (struktural)
Pengukuran
manusia pada posisi diam, dan linier pada permukaan tubuh.
2. Antropometri Dinamis (fungsional)
Yang
dimaksud dengan antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri
fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang
mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.
Hal-hal yang
memengaruhi dimensi antropometri manusia adalah sebagai berikut,
- Umur
Ukuran tubuh
manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan
17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun.
- Jenis kelamin
Pria pada
umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan
pinggul.
BB/U
Berat badan adalah
salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat
sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang
penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan
adalah parameter antropometri yang sangat labil.
Dalam keadaan normal,
diman keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan
gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur.
Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan
berat badan,yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal.
Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur
digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi.(Supariasa,2002)
BB/U
(Berat Badan terhadap Umur)
·
Indikator status gizi kurang saat
sekarang
·
Sensitif terhadap perubahan kecil
·
Kadang umur secara akurat sulit didapat
·
Growth monitoring
·
Pengukuran yang berulang dapat
mendeteksi growth failure karena
infeksi atau KEP.(Hartriyanti,2007)
Berat
badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting, dipakai pada setiap
kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan
merupakan hasil peningkatan/penurunan semua jaringan pada tubuh, anatra lain
tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lainnya.(Soetjiningsih,2005)
BB/U merefleksikan massa tubuh
relatif terhadap umur. Anak dengan BB/U yang rendah tidak selalu berat badannya
kurang. Sebab aada kemungkinan secara genetik anaknya pendek. Jadi dapat
terjadi over estimasi prevalensi gangguan gizi pada anak bila hanya menggunakan
indikator BB//U.(Adisasmito,2007)
a.
TB/U (Tinggi Badan terhadap Umur)
·
Indikator status gizi masa lalu
·
Indikator kesejahteraan dan kemakmura
suatu bangsa
·
Kadang umur secara akurat sulit didapat
(Hartriyanti,2007)
Tinggi Badan merupakan ukuran antropometri kedua
yang terpenting. Keistimeweaannyan adalah bahwa ukuran tinggi badan masa
pertumbuhan meningkat terus sampai tinggi maksimal dicapai (Soetjiningsih,2005)
TB/U dapat digunakan sebagai indeks status gizi
populasi karena merupakan estimasi keadaan yang telah lalu atau status gizi
kronik (Adisasmito,2007).
Tinggi badan merupakan antropometri yang
menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan
tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidakseprti
berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam
waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan
nampak dalam waktu yang relatif lama.(Supariasa,2002)
b.
BB/ TB (Berat Badan terhadap Tinggi
Badan)
· Mengetahui
proporsi badan (gemuk,normal,kurus)
· Indikator
status gizi saat ini
· Umur
tidak perlu diketahui (Hartriyanti,2007)
Berat Badan/Tinggi
Badan (BB/TB)
· Gemuk :
> 2.0 SD baku WHO-NCHS
· Normal : -2 SD s/d + 2.0 SD
· Kurus/wasted : < -2.0 SD
· Sangat
kurus : < -3.0 SD (Adisasmito,2007)
Berat
badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal,
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan
dengankecepatan tertentu. Jelliffe pada tahun 1996 telah memperkenalkan indeks
ini untuk mengidentifikasi status gizi, Indeks BB/TB merupakan indikator yang
baik untuk menilai status gizi saat ini (sekarang). Indeks BB/TB adalah merupakan
indeks yang independen terhadap umur.(Supariasa,2002)
c.
LILA
Lingkar
lengan atas memberikan gambaran tenteng keadaan jaringan otot dan lapisan lemak
bawah kulit. Lingkar lengan atas berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB.
Lingkar lengan atas merupakan parameter antropometri yang sangat sederhana dan
mudah dilakukan oleh tenaga yang bukan profesional. Kader posyandu dapat
melakukan pengukuran ini.(Supariasa,2002)
Lingkar
lengan atas biasa digunakan pada anak balita serta wanita usia susbur.
Pengukuran LILA dipilih karena pengukuran relatif cepat, harga lat murah, tidak
memerlukan data umur untuk balita yang kadang kala susah memerlukan data umur
yang tepat.(Hartriyanti,2007)
Lingkaran
lengan atas mencerminkan tumbuh kembang jarinagn lemak dan otot yang tidak
terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dubandingkan dengan berat badan. LLA
dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi/tumbuh kembang pada kelompok umur
prasekolah.(Soetjiningsih,2005)
d.
Lemak
Bawah Kulit
Pengukuran
lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan
pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas (triceps dan
biceps, lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis
ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), suprailiaka,
paha, tempurung lutut (suprapatellar), dan pertengahan tungkai bawah (medial
calf).(supariasa,2002)
Penilaian
komposisi tubuh termasuk untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah dan
distribusi lemak dapat dilakukan dengan beberapa metode mulai dari yang paling
sulit dilakukan sampai dengan metode yang relatif mudah untuk
digunakan.(Hartriyanti,2007)
Tebalnya
lipatan kulit pada triseps dan subskapular merupakan refleksi tumbuh kembang
jaringan lemak dibawah kulit., yang mencerminkan kecukupan energi. Dalam
keadaan definisi , lipatan kulit menipis dan sebaliknya menebal jika masukan
energi berlebihan. Tebal lipatan kulit dimanfaatkan untuk menilai terdapatnya
keadaan gizi lebih, khususnya pada kasus obesitas.(Soetjiningsih,2005)
e.
IMT
Masalah
kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas)
merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit
tertentu, juga dapat mempengaruhi produktiftas kerj. Oleh karena itu,
pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu
cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau
normal.(Supariasa,2002)
Indeks
Masa Tubuh (IMT) merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh
orang dewasa, dan dinyatakn sebagai berat badan (dalam kilo-gram)dibagi dengan
kwadrat tinggi badan (dalam ukuran meter): IMT = BB/TB
kwadrat.(Arisman,
2007)
Ada empat pendekatan utama untuk
mengkaji status gizi :
·
Antropometri yang mengukur besar dan
komposisi tubuh manusia
·
Biomarker yang mencerminkan asupan
nutrisi dan dampak yang ditimbulkan oleh asupan nutrisi tersebut
·
Pemeriksaan klinis yang memastikan
konsekuensi klinis akibat ketidak- seimbangan asupan nutrien
·
Pengkajian makanan yang meliputi asupan
makanan dan atau nutrien.
Masing-masing pendekatan ini memiliki kekuatan dan
keterbatasan yang berbeda serta spesifik ketika dipakai pada perorangan
dibandingkan pada masyarakat. Disamping itu,setiap pendekatan menunjukkan
keragaman yang nyata dalam hal keandalan dan biaya yang berkaitan dengan
pengumpulan datanya (Patterson,2009).
2.5
Penilaian Status Gizi berdasarkan
antropometri
Salah satu penilaian status gizi bayi dan balita
yang biasa dipergunakan yang bersifat praktis dan ekonomis adalah antropometri
atau ukuran tubuh. Hasil pengukuran status gizi secara antropometri pada bayi
dan balita dapat menggamnbarkan tentang perubahan perubahan prevelensi
kekurangan gizi, khususnya KEP dan tingkat kekurangan gizi ringan yang menahun.
ukuran antropometri diakui dapat diterapkan bagi penentuan status gizi.
(Abunain ,1990)
Standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan
BB/TB,Indikasi pengukuran dari variabel ini ditentukan oleh :
1.
Penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi
Badan (TB) Dilakukan oleh petugas klinik gizi sesuai dengan syarat-syarat penimbangan berat badan
dan pengukuran tinggi badan yang baik dan benar penggunaan timbangan berat
badan dan meteran tinggi badan (mikrotoise)
2.
Penentuan umur anak ditentukan sesuai tanggal
penimbangan BB dan Pengukuran TB,
kemudian dikurangi dengan tanggal kelahiran yang diambil dari data
identitas anak pada sekolah masing-masing, dengan ketentuan 1 bulan adalah 30
hari dan 1 tahun adalah 12 bulan.
Kriteria objektifnya dinyatakan dalam rata-rata dan
jumlah Z score simpang baku (SSB) induvidu dan kelompok sebagai presen terhadap
median baku rujukan (Abunain, 1990)
(Kemenkes,2010)
Untuk menghitung SSB dapat dipakai rumus :
Dimana : NIS
: Nilai Induvidual Subjek
NMBR : Nilai Median Baku
Rujukan
NSBR :
Nilai Simpang Baku Rujukan (Depkes,2004)
2.6
Nilai Rujukan
Persen
terhadap median menurut WHO 1983
1.
Anak laki – laki umur 3 tahun
|
UMUR
|
STATUS GIZI
|
||||
|
BURUK
|
KURANG
|
SEDANG
|
BAIK
|
LEBIH
|
|
|
3 TAHUN
|
≤ 8.7
|
8.8 - 10.2
|
10.3 - 11.7
|
11.8 - 17.6
|
≥ 17.7
|
2.
Anak peremuan umur 3 tahun
|
UMUR
|
STATUS GIZI
|
||||
|
BURUK
|
KURANG
|
SEDANG
|
BAIK
|
LEBIH
|
|
|
3 TAHUN
|
≤ 8.2
|
8.3 - 9.6
|
9.7 - 11.0
|
11.1 - 16.7
|
≥ 16.8
|
3.
Anak laki – laki umur 4 tahun
|
UMUR
|
STATUS GIZI
|
||||
|
BURUK
|
KURANG
|
SEDANG
|
BAIK
|
LEBIH
|
|
|
4 TAHUN
|
≤ 9.9
|
10.0 - 11.6
|
11.7 - 13.3
|
13.4 - 20.0
|
≥ 20.1
|
4.
Anak Perempuan umur 4 tahun
|
UMUR
|
STATUS GIZI
|
||||
|
BURUK
|
KURANG
|
SEDANG
|
BAIK
|
LEBIH
|
|
|
4 TAHUN
|
≤ 9.5
|
9.6 - 11.1
|
11.2 - 12.7
|
12.8 - 19.2
|
≥ 19.3
|
Standar deviasi unit
atau z skor Kemenkes 2010 (anak laki-laki)
BB/U
TB/U
Anak perempuan
BB/U
TB/U
Terdapat Perbedaan untuk BB/U antara WHO dan
Kemenkes, dimana WHO membagi kedalam 5 katagori yaitu Buruk,Kurang,Sedang,Baik
dan lebih sedangkan dalam Kemenkes 2010 hanya dibagi dalam 4 Katagori yaitu
Buruk,Kurang,Baik dan Lebih. Sehingga ada hasil yang sedikit berbeda ketika
penilaian anak masuk katagori sedang menurut WHO,maka dalam standar Kemenkes
anak tersebut dapat masuk katagori Kurang atau Baik.
2.7
Penilaian Status Gizi di PAUD IT
Al-Azhar
a. Pengambilan
Data
Data diambil di
PAUD Islam Terpadu Al-Azhar pada tanggal 27 Desember 2012
b. Jumlah
Baita yang dilakukan Penilaian Status Gizi
Keseluruhan
Balita yang diukur status gizi secara antropometri berjumlah 40 orang,dengan
proporsi umur dan jenis kelamin seperti terlihat pada tabel 1.1
Tabel
1.1
Proporsi
murid PAUD berdasarkan umur dan jenis kelamin
|
Umur
JK
|
Laki
- Laki
|
Perempuan
|
|
3
th
|
24
|
13
|
|
4
th
|
1
|
2
|
Grafik Proporsi balita
PAUD IT Al-Azhar,menurut umur dan jenis kelamin
c. Analisa
yang dilakukan adalah dengan membandingkan nilai ukur dengan standar yang telah
ditetapkan oleh WHO 1983 dan Juga Kemenkes 2010. Adapun Indeks Antropometri yang dipakai
adalah :
1. BB/U
2. TB/U
d. Pendekatan
ambang batas yang digunakan adalah :
1. Persen
terhadap median,dibandingkan dengan standar WHO 1983
2. Standar
Deviasi Unit atau Z Skor,Dibandingkan dengan standar KEMENKES 2010
BAB III
KESIMPULAN
1. Penilaian
status gizi sangat penting dilakukan untuk anak balita,agar proses tumbuh kembangnya
dapat dipantau.
2. Perlunya
melakukan pemberian pemahaman mengenai status gizi balita, sehingga pertumbuhan
dan perkembangan balita dapat optimal.
3. Penilaian
antropometri mudah untuk dilakukan,tetapi harus mengetahui terlebih dahulu
mengenai standar dan manual pengukuran,sehingga hasil yang didapatkan valid.
DAFTAR PUSTAKA
Abunain Djumadias,
1990, Aplikasi Antropometri sebagai Alat
Ukur Status Gizi, Puslitbang Gizi Bogor.
Depkes, RI, 2004,
Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta
Kemenkes RI
2010.KEPMENKES TENTANG STANDAR ANTROPOMETRI PENILAIAN STATUS GIZI ANAK.Direktorat
Bina Gizi.Jakarta
Kemenkes
RI,2010.RISKESDAS 2010.Badan Penelitian dan Pengembangan.Jakarta
Petterson,Ruth
E.2009.GIZI KESEHATAN MASYARAKAT. EGC : Jakarta
Suharjo, 2006, Gizi dan Pangan, Kanisius, Yogyakarta
Supariasa,I dewa
Nyoman.dkk.2002.PENILAIAN STATUS GIZI.EGC:Jakarta
Indrawani,Yvonne
M.2007 GIZI DAN KESEHATAN MASYARAKAT. Raja grafindo Persada : Jakarta
Santoso,Sugeng
DR M.pd.2004 KESEHATAN DAN GIZI Adi Mahasatya : Jakarta
Arisman,DR
MB.2007 GIZI DALAM DAUR KEHIDUPAN.EGC : Jakarta
Soetjiningsih,dr
SpAK TUMBUH KEMBANG ANAK,EGC : Jakarta
Adisasmito,Wiku
P.hd.2007 SISTEM KESEHATAN ,Raja grafindo persada : Jakarta
Hartriyanti,yayuk.2007
GIZI DAN KESEHATAN MASYARAKAT, Raja grafindo persada : Jakarta
Alamtsier.2005
PRINSIP DASAR ILMU GZI.Gramedia pustaka utama: Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar