Antropologi Yang Berkaitan Dengan
Gizi Masyarakat
1. Pengertian
Antropologi
Antropologi merupakan suatu ilmu
yang mempelajari tentang seluk beluk manusia dan juga budayanya. Menurut
Koentjaraningrat antropologi berarti
“ilmu tentang manusia.” Ilmu antropologi telah berkembang dengan luas, ruang
lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas ini yang menyebabkan
timbulnya paling sedikit 5 masalah penelitian.
Koentjaraningrat mengemukakan tentang 5 masalah ini : masalah
sejarah asal dan perkembangan manusia secara biologi, masalah sejarah
terjadinya aneka warna makhluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya
masalah sejarah asal, perkembangan dan penyebaran aneka warna bahasa yang
diucapkan manusia di seluruh dunia. Masalah perkembangan, penyebaran, dan
terjadinya aneka warna kebudayaan manusia di seluruh dunia. Masalah mengenai
azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku
bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi masa kini.
Dengan melihat 5
masalah di atas, sudah dapat dipastikan terdapat ilmu-ilmu yang terdapat dalam
ilmu antropologi yang membahas tentang ke-5 masalah tersebut. Untuk memecahkan
suatu masalah sudah dapat dipastikan dibutuhkan beberapa penelitian untuk
mengetahui sumber masalah itu sendiri dan pemecahannya. Menurut Anderson (2006
: 256) ahli antropologi melaksanakan penelitian mereka dengan cara eksplorasi
yang relatif tanpa struktur dan meliputi masalah-masalah yang sangat luas.
Seorang ahli antropologi tidak terlalu mempersoalkan untuk memisahkan antara
masalah-masalah penelitian yang kecil dan ketat yang dapat mereka kerjakan
dengan disain-disain penelitian yang dari segi estetika memuaskan, dengan
masalah-masalah umum yang luas, yang akan mengarahkan peneliti kepada banyak
jalur penemuan.
Menurut Anderson
pendekatan holistik antropologi terhadap
interpretasi atas bentuk-bentuk sosial dan budaya serta ketergantungan pokok
pada observasi partisipasi untuk mengumpulkan data dan menghasilkan hipotesis
adalah hasil dari, atau berkaitan erat dengan sampel umum dari penelitian
antropologi. Akan tetapi Anderson juga
menyatakan antropologi tidak mencukupi diri dalam menghasilkan
hipotesis-hipotesis dan topik-topik penelitian baru. Kita (ahli antropologi)
didorong oleh data dan ide-ide dari berbagai bidang lain.
Terdapat macam-macam antropologi seperti antropologi fisik, antropologi budaya, antropologi biologi antropologi sosial, antropologi kesehatan. Ilmu antropologi memberi sumbangan bagi ilmu kesehatan. Anderson menyatakan bahwa kegunaan antropologi bagi ilmu-ilmu kesehatan terletak dalam 3 kategori utama :
Terdapat macam-macam antropologi seperti antropologi fisik, antropologi budaya, antropologi biologi antropologi sosial, antropologi kesehatan. Ilmu antropologi memberi sumbangan bagi ilmu kesehatan. Anderson menyatakan bahwa kegunaan antropologi bagi ilmu-ilmu kesehatan terletak dalam 3 kategori utama :
a.
Ilmu antropologi memberikan suatu cara
yang jelas dalam memandang masyarakat secara keseluruhan maupun para anggota
individual mereka. Ilmu antropologimenggunakan pendekatan yang menyeluruh atau
bersifat sistem, dimana peneliti secara tetap menanyakan, bagaimana seluruh
bagian dari sistem itu saling menyesuaikan dan bagaimana sistem itu bekerja.
b.
Ilmu antropologi memberikan suatu model
yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses-proses perubahan
sosial dan buaya dan juga untuk membantu memahami keadaan dimana para warga
dari “kelompok sasaran” melakukan respon terhadap kondisi yang berubah dan
adanya kesempatan baru.
c.
Ahli antropologi menawarkan kepada
ilmu-ilmu kesehatan suatu metodologi penelitian yang longgar dan efektif untuk
menggali serangkaian masalah teoritis dan praktis yang sangat luas, yang
dihadapi dalam berbagai program kesehatan.
Begitu pula sebaliknya, menurut Anderson ilmu-ilmu kesehatan menawarkan kepada ilmu antropologi berbagai bidang yang khusus, yang langsung dapat dibandingkan dengan subjek-subjek tradisional seperti masyarakat rumpun dan desa-desa.
Begitu pula sebaliknya, menurut Anderson ilmu-ilmu kesehatan menawarkan kepada ilmu antropologi berbagai bidang yang khusus, yang langsung dapat dibandingkan dengan subjek-subjek tradisional seperti masyarakat rumpun dan desa-desa.
Antropologi
kesehatan merupakan bagian dari ilmu antropologi yang sangat penting sekali,
karena di dalam antropologi kesehatan diterangkan dengan jelas kaitan antara
manusia, budaya, dan kesehatan sehingga kita dapat mengetahui kaitan antara
budaya suatu masyarakat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri.
Anderson menyatakan bahwa antropologi kesehatan adalah
disiplin biobudaya yang memberi perhatian kepada aspek-aspek biologis dan
sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi
ntara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit.
Antropologi
kesehatan ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, akan tetapi
antropologi kesehatan ini mempunyai akar. Anderson menyatakan antropologi kesehatan kontemporer
mempunyai 4 sumber :
a.
Perhatian ahli antropologi fisik
terhadap topik-topik seperti evolusi, adaptasi, anatomi, komparatif, tipe-tipe
ras genetika, dan serologi.
b.
Perhatian etnografi tradisional terhadap
pengobatan primitif, termasuk ilmu sihir dan magis.
c.
Gerakan “kebudayaan dan kepribadian”
pada akhir 1930-an dan 1940-an yang merupakan kerjasama antara ahli-ahli
psikiatri dan antropologi.
d.
Gerakan kesehatan masyarakat
internasional setelah perang dunia II.
Untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan tidaklah mudah, dibutuhkan pegalaman, naluri dalam menyikapi masalah, seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 244), beliau menyatakan : untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan, seseorang memerukan dasar latihan antropologi ang baik, pengalaman penelitian, naluri terhadap masalah, simpati terhadap orang lain, dan tentunya dapat memasuki dunia kesehatan dan masyarakat kesehatan yang bersedia menerma kehadiran para ahli antropologi itu. Untuk menjadi ahli antropologi kesehatan, selain yang sudah disebutkan, seorang ahli antropologi kesehatan haruslah sabar dan teliti karena seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 246) beliau menyatakan : Para ahli antropologi harus menjadi generalis, mencatat, dan menginterpretasikan data tentang geografi, kebudayaan material, kehidupan ekonomi, organisasi sosial, religi, kesenian, foklor, rekreasi, bahasa – segala sesuatu yang dilakukan manusia atau diingat pernah dilakukan mereka. Akan tetapi semua ini tidaklah cukup seorang ahli antropologi harus bisa mengetahui, memahami, dan juga menerangkan mengapa suatu sikap atau tingkah laku di suatu masyarakat bisa terjadi.
Untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan tidaklah mudah, dibutuhkan pegalaman, naluri dalam menyikapi masalah, seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 244), beliau menyatakan : untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan, seseorang memerukan dasar latihan antropologi ang baik, pengalaman penelitian, naluri terhadap masalah, simpati terhadap orang lain, dan tentunya dapat memasuki dunia kesehatan dan masyarakat kesehatan yang bersedia menerma kehadiran para ahli antropologi itu. Untuk menjadi ahli antropologi kesehatan, selain yang sudah disebutkan, seorang ahli antropologi kesehatan haruslah sabar dan teliti karena seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 246) beliau menyatakan : Para ahli antropologi harus menjadi generalis, mencatat, dan menginterpretasikan data tentang geografi, kebudayaan material, kehidupan ekonomi, organisasi sosial, religi, kesenian, foklor, rekreasi, bahasa – segala sesuatu yang dilakukan manusia atau diingat pernah dilakukan mereka. Akan tetapi semua ini tidaklah cukup seorang ahli antropologi harus bisa mengetahui, memahami, dan juga menerangkan mengapa suatu sikap atau tingkah laku di suatu masyarakat bisa terjadi.
2. Pengertian Gizi
Ilmu gizi
merupakan salah satu ilmu terapan yang berkaitan dengan berbagai ilmu dasar
seperti ilmu kimia, biokimia, biologi, fisiologi, pathologi, ilmu pangan, dan
lain-lain. Lahirnya ilmu gizi diawali dengan penemuan tentang hal yang
berkaitan dengan penggunaan energi makanan meliputi proses pernapasan,
oksidasi, dan kalorimetri.
Gizi merupakan zat yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Dan untuk mengetahui tentang gizi ini kita harus lebih mendalam mempelajari tentang gizi. Almatsier (2004 : 3) menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza, yang berarti “makanan”. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia.
Gizi merupakan zat yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Dan untuk mengetahui tentang gizi ini kita harus lebih mendalam mempelajari tentang gizi. Almatsier (2004 : 3) menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza, yang berarti “makanan”. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia.
a.
Guthrie (1983), beliau menyatakan
prinsip-prinsip gizi dasar adalah ilmu yang mempelajari makanan, zat gizi,
proses pencernan, metabolisme dan penyerapan dalam tubuh, fungsi serta akibat
kekurangan atau kelebihan zat gizi bagi tubuh.
b.
Sediaoetama , beliau menyatakan ilmu
gizi adalah ilmu yang mempelajari hal ikhwal makanan yang dikaitkan dengan
kesehatan tubuh.
c.
National Academy of Science (1994), ilmu
gizi adalah ilmu yang mempelajari zat-zat dari pangan yang bermanfaat bagi
kesehatan dan proses yang terjadi pada pangan sejak dikonsumsi, dicerna,
diserap sampai dimanfaatkan tubuh, serta dampaknya terhadap pertumbuhan,
perkembangan, dan kelangsungan hidup manusia serta faktor yang mempengaruhinya.
Dengan
melihat pengertian ilmu gizi di atas, sudah dapat dipastikan gizi merupakan zat
gizi atau makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita. Menurut Almatsier
(2004 : 3) zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta
mengatur proses-proses jaringan. Dengan demikian, apabila kita memilih makanan
sehari-hari kita harus memilih dengan baik karena makanan yang baik dapat
memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Jadi
apabila kita memilih makanan, kita harus memilih makanan yang mengandung zat
gizi yang berfungsi seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 8). Beliau
menyatakan bahwa :
a.
Memberi energi : zat-zat gizi yang dapat
memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi
ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan kegiatan/aktivitas.
b.
Pertumbuhan dan pemelihara jaringan
tubuh : protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh
karena itu, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan mengganti
sel-sel yang rusak.
c.
Mengatur proses tubuh : protein,
mineral, air, dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein
mengatur keseimbangan air di dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya
memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai pangkal organisme
yang bersifat infektif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh.
Setelah
mengetahui betapa pentingnya gizi bagi kesehatan atau fungsi tubuh kita, maka
kita harus senantiasa menjaga agar jangan sampai kita ini kekurangan ataupun
kelebihan gizi, karena akan berbahaya. Menurut Almatsier (2004 : 9) bahwa
gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer dan sekunder. Faktor primer adalah
bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas yang
disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan,
kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah, dan sebagainya. Faktor sekunder
meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel
tubuh setelah makanan dikonsumsi.
3. Hubungan antara
Antropologi dengan Gizi
Dari
empat bilyun manusia di dunia, ratusan juta orang menderita gizi buruk dan
kekurangan gizi. Angka yang tepat tidak ada, tidak ada sensus mengenai
kelaparan dan perbedaan antara gizi cukup dan gizi kurang merupakan jalur yang
lebar, bukan suatu garis yang jelas. Apapun tolok ukur kita, kelaparan (dan
sering mati kelaparan) merupakan hambatan yang paling besar bagi perbaikan
kesehatan di sebagian terbesar negara-negara di dunia. Kekurangan gizi
menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, menyebabkan banyak penyakit
kronis, dan menyebabkan orang tidak mungkin melakukan kerja keras. Kekurangan gizi
ini selain dari ketidakmampuan negara-negra non industri untuk menghasilkan
cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan penduduk mereka yang berkembang, juga
muncul karena kepercayaan-kepercayaan keliru yang terdapat di mana-mana,
mengenai hubungan antara makanan dan kesehatan, dan juga tergantung pada
kepercayaan-kepercayaan, pantangan-pantangan dan upacara-upacara, yang mencegah
orang memanfaatkan sebaik-baiknya makanan yang tersedia bagi mereka. Anderson
(2006 : 311) menyatakan karena pengakuan bahwa masalah gizi di seluruh dunia
didasarkan atas bentuk-bentuk budaya maupun karena kurang berhasilnya
pertanian, maka semua organisasi pengembangan internasional maupun nasional
yang utama menaruh perhatian tidak semata-mata pada pertambahan produksi
makanan, melainkan juga pada kebiasaan makanan tradisional yang berubah, untuk
mencapa keuntungan maksimal dari gizi yang diperoleh dari makanan yang
tersedia.
Karena
kebiasaan makan hanya dapat dimengerti dalam konteks budaya yang menyeluruh,
maka program-program pendidikan gizi yang efektif yang mungin menuju kepada
perbaikan kebiasaan makan harus didasarkan atas pengertian tentang makanan
sebagai suatu pranata sosial yang memenuhi banyak fungsi. Studi mengenai
makanan dalam konteks budayanya yang menunjuk kepada masalah-masalah yang
praktis ini, jelas merupakan suatu peranan para ahli antropologi yang sejak
pertama dalam penelitian lapangannya telah mengumpulkan keterangan tentang
praktek-praktek makan dan kepercayaan tentang makanan dari penduduk yang mereka
observasi.
Dalam
buku karya Anderson (2006 : 312), Norge Jerome menyatakan bahwa “Antropologi
Gizi” meliputi disiplin ilmu tentang gizi dan antropologi. Bidang itu
memperhatikan gejala-gejala antropologi yang mengganggu status gizi dari
manusia. Dengan demikian, evolusi manusia, sejarah dan kebudayaan, dan
adaptasinya kepada variabel gizi yang berubah-ubah dalam kondisi lingkungan
yang beraneka ragam menggambarkan bahan-bahan yang merupakan titik perhatian
dalam antropologi gizi. Menurut Anderson (2006 : 312) ada dua aspek penting
dari antropologi gizi :
a.
Sifat sosial, budaya, dan psikologis
dari makanan (yaitu peranan-peranan sosial budaya dari makanan yang berbeda
dengan peranan-peranan gizinya).
b.
Cara-cara dimana dimensi-dimensi sosial
budaya dan psikologi dari makanan berkaitan dengan masalah gizi yang cukup,
terutama dalam masyarakat-masyarakat tradisional.
Menurut Anderson (2006 : 313) menyatakan bahwa para ahli antropologi memandang kebiasaan makan sebagai suatu kompleks kegiatan masak-memasak, masalah kesukaran dan ketidaksukaran, kearifan rakyat, kepercayaan-kepercayaan, pantangan-pantangan, dan takhayul-takhayul yang berkaitan dengan produksi, persiapan, dan konsumsi makanan. Pendeknya, sebagai suatu kategori budaya yang penting, ahli-ahli antropologi melihat makanan mempengaruhi dan berkaitan dengan banyak kategori budaya lainnya.
Menurut Anderson (2006 : 313) menyatakan bahwa para ahli antropologi memandang kebiasaan makan sebagai suatu kompleks kegiatan masak-memasak, masalah kesukaran dan ketidaksukaran, kearifan rakyat, kepercayaan-kepercayaan, pantangan-pantangan, dan takhayul-takhayul yang berkaitan dengan produksi, persiapan, dan konsumsi makanan. Pendeknya, sebagai suatu kategori budaya yang penting, ahli-ahli antropologi melihat makanan mempengaruhi dan berkaitan dengan banyak kategori budaya lainnya.
Setelah
mengetahui betapa kuatnya kepercayaan-kepercayaan kita atau suatu masyarakat
mengenai apa yang dianggap makanan dan apa yang dianggap bukan makanan,
sehingga terbukti sangat sukar untuk meyakinkan orang untuk menyesuaikan
makanan tradisional mereka demi kepentingan gizi yang baik. Karena pantangan
agama, takhayul, kepercayaan tentang kesehatan, dan suatu peristiwa yang
kebetulan dalam sejarah ada bahan-bahan yang bergizi baik yang tidak boleh
dimakan, mereka diklasifikasikan sebagai “bukan makanan”. Dengan kata lain,
penting untuk membedakan antara nutrimen dengan makanan. Anderson (2006 : 313)
menyatakan bahwa nutrimen adalah suatu konsep biokimia, suatu zat yang mampu untuk
memelihara dan menjaga kesehatan organisme yang menelannya. Makanan adalah
suatu konsep budaya, suaty pernyataan yang sesungguhnya mengatakan “zat ini sesuai
bagi kebutuhan gizi kita.
Dalam kebudayaan
bukan hanya makanan saja yang dibatasi atau diatur, akan tetapi konsep tentang
makanan, kapan dimakannya, terdiri dri apa dan etiket makan. Di antara
masyarakat yang cukup makanan, kebudayaan mereka mendikte, kapan mereka merasa
lapar dan apa, serta berapa banyak mereka harus makan agar memuaskan rasa lapar.
Jadi dengan demikian, nafsu makan lapar adalah suatu gejala yang berhubungan
namun berbeda. Anderson (2006 : 315) menyatakan nafsu makan, dan apa yang
diperlukan untuk memuaskan adalah suatu konsep budaya yang dapat sangat berbeda
antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Sebaliknya, lapar
menggambarkan suatu kekurangan gizi yang dasar dan merupakan suatu konsep
fisiologis. Makanan selain penting bagi kelangsungan hidup kita, juga penting
bagi pergaulan sosial. Anderson (2006 : 317) menyatakan tentang simbolik dari
makanan :
a.
Makanan sebagai ungkapan ikatan sosial
Barangkali di setiap masyarakat, menawarkan makanan (dan kadang-kadang minuman) adalah menawarkan kasih sayang, perhatian, dan persahabatan. Menerima makanan yang ditawarkan adalah mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan dan untuk membalasnya.
Barangkali di setiap masyarakat, menawarkan makanan (dan kadang-kadang minuman) adalah menawarkan kasih sayang, perhatian, dan persahabatan. Menerima makanan yang ditawarkan adalah mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan dan untuk membalasnya.
b.
Makanan sebagai ungkapan dari
kesetiakawanan kelompok
Makanan sering dihargai sebagai lambang-lambang identitas suatu bangsa atau nasional. Namun tidak semua makanan mempunyai nilai lambang seperti ini, makanan yang mempunyai dampak yang besar adalah makanan yang berasal atau dianggap berasal dari kelompok itu sendiri dan bkan yang biasanya dimakan di banyak negara yang berlainan atau juga dimakan oleh banyak suku bangsa.
Makanan sering dihargai sebagai lambang-lambang identitas suatu bangsa atau nasional. Namun tidak semua makanan mempunyai nilai lambang seperti ini, makanan yang mempunyai dampak yang besar adalah makanan yang berasal atau dianggap berasal dari kelompok itu sendiri dan bkan yang biasanya dimakan di banyak negara yang berlainan atau juga dimakan oleh banyak suku bangsa.
c.
Makanan dan stres
Makanan
memberi rasa ketenteraman dalam keadaan-keadaan yang menyebabkan stres. Burgess
dan Dean menyatakan bahwa sikap-sikap terhadap makanan sering mencerminkan
persepsi tentang bahaya maupun perasaan stres. Menurut mereka, suatu cara untuk
mengatasi stres ini dari dalam, sehubungan dengan ancaman terhadap jiwa atau
terhadap keamanan emosional adalah melebih-lebihkan bahaya dari luar, cara
lainnya adalah mempersalahkan ancaman dari dalam akibat pengaruh-pengaruh luar.
d.
Simbolisme makanan dalam bahasa
Pada
tingkatan yang berbeda, bahasa mencerminkan hubungan-hubungan psikologis yang
sangat dalam di antara makanan, persepsi kepribadian, dan keadaan emosional.
Dalam bahasa Inggris, yang pada ukuran tertentu mungkin tidak tertandingi oleh
bahasa lain, kata-kata sifat dasar yang biasa digunakan untuk menggambarkan
kualitas-kualitas makanan digunakan juga untuk menggambarkan kualitas-kualitas
manusia.
Setelah
mengetahui betapa rumit masalah yang berhubungan dengan gizi ini ataupun
makanan karena berkaitan dengan kebudayaan masyarakat yang berbeda-beda, maka
salah satu cara adalah dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang
apa yang sering belum dipelajari oleh masyarakat rumpun maupun masyarakat
pedesaan adalah hubungan antara makanan dan kesehatan serta antara makanan yang
baik dengan kehamilan, juga kebutuhan-kebutuhan akan makanan khusus bagi anak
setelah penyapihan. Anderson (2006 : 323) menyatakan bahwa dalam perencanaan
kesehatan, masalahnya tidak terbatas pada pencarian cara-cara untuk
menyelesaikan lebih banyak bahan makanan, melainkan harus pula dicarikan
cara-cara untuk memastikan bahwa bahan-bahan makanan yang tersedia digunakan
secara efektif.
Kesenjangan
yang besar dalam pemahaman tentang bagaimana makanan itu digunakan dengan sebaik-baiknya.
Barangkali yang terpenting dari kesenjangan itu adalah kegagalan yang
berulangkali terjadi untuk mengenal hubungan yang pasti antara makanan dan
kesehatan. Susunan makanan yang cukup cenderung ditafsirkan dalam rangka
kuantitas, bukan kualitasnya mengenai makanan yang pokok, yang cukup, bukan
pula dari keseimbangannya dalam hal berbagai makanan. Kesenjangan besar yang
kedua dalam kearifan makanan tradisional pada masyarakat rumpun dan masyarakat
petani adalah seringnya kegagalan mereka untuk mengenali bahwa anak-anak
mempunyai kebutuhan-kebutuhan gizi khusus, baik sebelum maupun sesudah
penyapihan.
Penemuan Burgess dan Dean tentang masalah gizi karena perubahan budaya dalam buku karya Anderson (2006 : 325) menggambarkan aturan yang umum. Meskipun terdapat suatu kecenderungan umum bahwa makanan menjadi lebih baik dengan bertambahnya penghasilan. Kebalikannya, makanan juga bisa lebih buruk terutama dalam perubahan dari ekonomi sub sistem menjadi ekonomi uang. Dan Marchione yang berpendapat tentang masalah gizi karena perubahan budaya. Beliau menemukan masalah kekurangan gizi pada rumah tangga-rumah tangga di desa yang lebih miskin, yang hidupnya berorientasi pada pertanian setengah sub sistem, menurun secara menyolok terutama di atara anak-anak. Bahwa suatu peningkatan dalam pertanian sub sistem sebagian besar atau seluruhnya menjelaskan perbaikan ini, hal itu dibuktikan oleh angka-angka kekurangan gizi di perkotaan, yang tetap konstan karena perubahan yang berarti dalam hal pola penyediaan makanan.
Penemuan Burgess dan Dean tentang masalah gizi karena perubahan budaya dalam buku karya Anderson (2006 : 325) menggambarkan aturan yang umum. Meskipun terdapat suatu kecenderungan umum bahwa makanan menjadi lebih baik dengan bertambahnya penghasilan. Kebalikannya, makanan juga bisa lebih buruk terutama dalam perubahan dari ekonomi sub sistem menjadi ekonomi uang. Dan Marchione yang berpendapat tentang masalah gizi karena perubahan budaya. Beliau menemukan masalah kekurangan gizi pada rumah tangga-rumah tangga di desa yang lebih miskin, yang hidupnya berorientasi pada pertanian setengah sub sistem, menurun secara menyolok terutama di atara anak-anak. Bahwa suatu peningkatan dalam pertanian sub sistem sebagian besar atau seluruhnya menjelaskan perbaikan ini, hal itu dibuktikan oleh angka-angka kekurangan gizi di perkotaan, yang tetap konstan karena perubahan yang berarti dalam hal pola penyediaan makanan.
Setelah
mengetahui keterkaitan atau hubungan antara gizi atau makanan dengan
antropologi atau kebudayaan, bagi kita yang menaruh perhatian pada usaha
memperbaiki tingkatan gizi dari masyarakat yang menderita kurang gizi, jelaslah
bahwa analisis klinis dari kekurangan gizi baru merupakan langkah awal.
Kemajuan akan sedikit sekali tercapai, kecuali apabila petugas penyuluhan juga
memahami fungsi-fungsi sosial dari makanan, arti simbolik, dan kepercayaan yang
terkait dengannya. Pengetahuan mengenai kepercayaan lokal tersebut dapat
dipakai dalam perencanaan perbaikan gizi. Dalam buku Anderson (2006 : 330)
Cassel telah menunjukkan netapa pengidentifikasian makanan-makanan sehat dalam
makanan kuno orang Zulu dapat membangkitkan perhatian mereka terhadap makanan dan
dengan motivasi nasionalistik bersedia menerima banyak perubahan-perubahan demi
peningkatan gizi mereka.
Kemiskinan
dan kekurangan akan gizi yang memadai pada tingkatan tertentu membatasi
kemungkinan untuk memperbaiki gizi jutaan penduduk yang menderita kurang
pangan. Sebaliknya, sungguh mengecewakan untuk melihat bahwa betapa seringnya
praktek-praktek budaya menimbulkan kekurangan kebutuhan dasar. Kesadaran akan
praktek-praktek demikian dan pengetahuan tentang “hambatan-hambatan” yang harus
diatasi untuk dapat merubah mereka adalah sangat penting untuk membantu
masyarakat memaksimalkan sumber-sumber pangan yang tersedia bagi mereka. Di
sinilah antropologi memberikan sumbangan besar kepada ilmu gizi dalam lapangan
penelitian dan pengajaran.
B. Pembahasan Antropologi
B. Pembahasan Antropologi
Merupakan
ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dan
budayanya, dan di dalam antropologi juga diterangkan tentang antropologi
kesehatan yang menerangkan tentang hubungan manusia, budaya, dan kesehatan. Di
dalam antropologi kesehatan ini diterangkan dengan lebih jelas tentang tingkah
laku manusia yang mempengaruhi kesehatannya dikarenakan budayanya. Gizi
merupakan zat yang terdapat di dalam makanan yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup. Dengan mengkonsumsi gizi seseorang dapat tumbuh dengan baik
karena zat gizi ini dapat memberikan zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
sehingga tubuh dapat terpelihara dengan baik.
Setelah mengetahui tentang antropologi dan gizi, maka sedikit banyak kita dapat melihat hubungan antara antropologi dengan gizi. Hubungan antropologi dengan gizi ini sangat kuat sekali atau sangart erat. Seseorang atau suatu kelompok masyarakat mengalami gizi buruk atau kekurangan gizi bukann hanya karena masalah ekonomi, akan tetapi bisa juga diakibatkan oleh kepercayaan atau budaya seseorang. Banyak sekali terdapat suatu kelompok masyarakat yang mengalami gizi buruk dikarenakan mereka percaya kepada kepercayaan atau kebudayaan mereka. Mereka mengalami gizi buruk karena mereka tidak mau memakan makanan yang seharusnya mereka makan yang jelas mengandung banyak gizi dikarenakan mereka mempercayai bahwa makanan tersebut tidak boleh dimakan ataupun kebudayaan mereka melarang mereka untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Hal ini tentu saja sangat mengecewakan karena banyak sekali kelompok masyarakat yang kekurangan gizi karena tidak bisa mendapatkannya karena masalah ekonomi. Akan tetapi ada suatu kelompok masyarakat yang mampu untuk mendapatkan makanan tersebut namun mereka tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini menyebabkan banyaknya suatu kelompok masyarakat yang kekurangan gizi, padahal dalam kelompok masyarakat itu terdapat cukup banyak makanan yang mengandung gizi.
Setelah mengetahui tentang antropologi dan gizi, maka sedikit banyak kita dapat melihat hubungan antara antropologi dengan gizi. Hubungan antropologi dengan gizi ini sangat kuat sekali atau sangart erat. Seseorang atau suatu kelompok masyarakat mengalami gizi buruk atau kekurangan gizi bukann hanya karena masalah ekonomi, akan tetapi bisa juga diakibatkan oleh kepercayaan atau budaya seseorang. Banyak sekali terdapat suatu kelompok masyarakat yang mengalami gizi buruk dikarenakan mereka percaya kepada kepercayaan atau kebudayaan mereka. Mereka mengalami gizi buruk karena mereka tidak mau memakan makanan yang seharusnya mereka makan yang jelas mengandung banyak gizi dikarenakan mereka mempercayai bahwa makanan tersebut tidak boleh dimakan ataupun kebudayaan mereka melarang mereka untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Hal ini tentu saja sangat mengecewakan karena banyak sekali kelompok masyarakat yang kekurangan gizi karena tidak bisa mendapatkannya karena masalah ekonomi. Akan tetapi ada suatu kelompok masyarakat yang mampu untuk mendapatkan makanan tersebut namun mereka tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini menyebabkan banyaknya suatu kelompok masyarakat yang kekurangan gizi, padahal dalam kelompok masyarakat itu terdapat cukup banyak makanan yang mengandung gizi.
Setelah
mengetahui hubungan antara antropologi dengan gizi, maka kita sebagai penyuluh
kesehatan penting sekali bagi kita untuk mempelajari antropologi atau
kebudayaan penduduk setempat yang akan diberi penyuluhan. Dengan mempelajari
antropologi akan memudahkan kita untuk meningkatkan derajat kesehatan, karena
kalaun kita sebelum memberikan penyuluhan kita mempelajari
kepercayaan-kepercayaan atau kebudayaan penduduk setempat akan memudahkan kita
untuk memberikan penyuluhan karena kita sudah mengetahui seluk beluk masyarakat
tersebut. Dengan ilmu antropologi kita akan mengetahui bagaimana menangani
masalah kesehatan atau kekurangan gizi suatu masyarakat. Dengan ilmu ini kita
dapat meyakinkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan ini dan betapa
pentingnya makanan yang mengandung gizi untuk tubuh kita, ataupun kita bisa
memberikan alternatif lain yaitu dengan cara kita memberikan penyuluhan dengan
cara menyarankan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung
banyak gizi yang tidak bertentangan dengan kebudayaan mereka. Agar apa yang
kita usahakan tidak sia-sia karena tidak mungkin atau kecil sekali kemungkinan
kita dapat memperbaiki gizi syatu daerahkalau apa yang kita sarankan itu
bertentangan dengan kebudayaan mereka. Akan sulit sekali kita merubah perilaku
seseorang yang diakibatkan oleh budaya, hal itu akan memakan atau membutuhkan
proses yang lama dan panjang.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Antropologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia dengan budayanya,
atau juga berarti ilmu tentang manusia. Dalam antropologi diterangkan bagaimana
hubungan manusia dengan budayanya dan apa pengaruhnya. Cakupan ilmu antropologi
itu luas sekali, salah satunya antropologi kesehatan yang menerangkan tentang
manusia, budaya, dan kesehatan sehingga kita dapat mengetahui kaitan antara
budaya suatu masyarakat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri.
2. Gizi
merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Ilmu gizi sendiri adalah
ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan
kesehatan optimal. Gizi itu sangat penting sekali bagi kelangsungan hidup kita.
Apabila gizi kita terpenuhi, maka kita akan terhindar dari berbagai penyakit
karena kita mempunyai tubuh yang sehat.
3. Hubungan
antara antropologi dengan gizi itu sangat erat sekali, karena banyak sekali
orang yang kekurangan gizi yang bukan diakibatkan oleh masalah ekonomi, akan
tetapi diakibatkan oleh kepercayaan atau kebudayaan mereka yang melarang
memakan makanan yang sebenarnya mengandung banyak gizi. Hal ini menimbulkan
sesuatu yang sangat mengecewakan. Di satu sisi terdapat masyarakat yang
kekurangan gizi karena mereka tidak bisa mendapatkannya karena masalah ekonomi,
di sisi lain terdapat masyarakat yang kekurangan gizi akibat kebudayaan mereka
tidak mengizinkan atau melarang mereka memakan makanan tersebut yang seharusnya
dipergunakan dengan sebaik-baiknya karena makanan tersebut sangat bermanfaat
bagi mereka.
B. Saran
Setelah membaca makalah ini,
penulis berharap pembaca lebih mendapatkan pengetahuan tentang hubungan antara
antropologi dengan gizi, sehingga pembaca dapat mengetahui tentang pentingnya
gizi dan pengaruh antropologi terhadap gizi suatu masyarakat, sehingga pembaca
mendapatka pengetahuan tentang cara-cara meningkatkan derajat kesehatan.
Akhirnya, semoga penyusunan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis
dan umumnya bagi pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar